Pemerintah Bidik Target Pertumbuhan 6%, Menko Airlangga Yakin Ekonomi RI Makin Perkasa di Semester II 2026
JAKARTA — Momentum pemulihan dan penguatan perekonomian nasional diproyeksikan bakal terus melaju kokoh hingga penghujung tahun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimisme tinggi bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2026 akan mempertahankan kinerjanya yang solid, didorong oleh ketahanan domestik yang tangguh serta fondasi sektor manufaktur yang terus bergeliat.
Prospek cerah di paruh kedua tahun ini tak lepas dari pijakan kuat yang berhasil diukir pada paruh pertama. Berdasarkan catatan resmi, perekonomian nasional sanggup mencatatkan laju pertumbuhan sebesar 5,45% pada semester I 2026. Sektor industri pengolahan menjadi salah satu mesin penggerak utama yang menopang ketahanan ekonomi nasional di tengah bayang-bayang ketidakpastian global.
Meski dinamika pasar internasional masih dibayangi berbagai gejolak dan tekanan, pemerintah memandang bahwa aktivitas ekonomi di dalam negeri memiliki daya tahan (resilience) yang sangat memadai. Keyakinan ini tecermin dari komitmen pemerintah untuk menjaga momentum ekspansi pasar dan terus memacu kinerja investasi strategis.
Guna menjaga performa perekonomian tetap berada di jalur positif, pemerintah bahkan telah mematok aspirasi besar untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi menuju level 6%. Salah satu pilar utama yang diandalkan untuk menembus target tersebut adalah percepatan program hilirisasi industri. Pemerintah membidik komitmen investasi hilirisasi dengan nilai fantastis mencapai Rp 1.160 triliun pada tahun 2027 mendatang.
Guna merespons tantangan dan ketidakpastian di tingkat global yang terus membayangi, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa daya tahan ekonomi dalam negeri terus menunjukkan performa positif.
"Kalau aspirasi, aspirasi kita menuju 6%. Kondisi dunianya seperti ini kita lihat bagaimana gerak ekonomi Indonesia. Tapi sangat resilient," katanya.
Di samping sokongan dari sektor industri dan investasi hilirisasi, pemerintah menekankan pentingnya menjaga indikator konsumsi rumah tangga dan stabilitas daya beli masyarakat secara luas. Konsumsi domestik dinilai sebagai fondasi fundamental agar roda perekonomian dapat berputar cepat.
Menanggapi dinamika indikator tingkat keyakinan konsumen yang sempat mengalami fluktuasi, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan penjelasannya.
"(IKK) masih di atas 100. Aman. Kemarin kan ada Lebaran. Lebaran kan enggak tiap kuartal," ujarnya.
Isu ketahanan pangan juga menjadi perhatian serius pemerintah, terutama dalam mengantisipasi risiko perubahan iklim ekstrem serta dampak fenomena cuaca El Nino yang dapat mengganggu pasokan kebutuhan pokok. Pemerintah telah menyiapkan serangkaian skema mitigasi dan pemberian kemudahan ketersediaan pangan bagi masyarakat guna mencegah lonjakan inflasi.
Ketika dikonfirmasi mengenai langkah antisipasi dan pemberian insentif khusus dalam menghadapi ancaman dampak iklim tersebut, Airlangga Hartarto menegaskan komitmen pemerintah.
"Nanti kita lihat selalu kita berikan kemudahan untuk pangan," ujarnya.
Terkait arah serta proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal II 2026 yang menjadi tumpuan utama menuju semester kedua, Airlangga mengekspresikan keyakinannya saat berbicara di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta.
"Kita monitor aja. Di atas 5% (pertumbuhan ekonomi), still," ujarnya kepada wartawan.
Optimisme yang dipancarkan oleh pemerintah selaras dengan pandangan lembaga-lembaga keuangan internasional. Bank Dunia (World Bank) bahkan merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5,2%. Proyeksi dari Bank Dunia tersebut tecatat lebih tinggi ketimbang perkiraan yang dirilis oleh Dana Moneter Internasional (IMF), sekaligus menegaskan bahwa perekonomian Indonesia merupakan salah satu yang paling prospektif di kawasan Asia Tenggara.
Sinergi antara penguatan daya beli masyarakat, peningkatan arus investasi, serta dukungan insentif fiskal yang tepat sasaran diyakini akan terus memacu pertumbuhan manufaktur. Kombinasi instrumen kebijakan ini diharapkan mampu menjaga iklim dunia usaha tetap kondusif hingga akhir tahun.
Dengan landasan pertumbuhan semester I sebesar 5,45% dan solidnya dukungan dari industri pengolahan, pemerintah memproyeksikan bahwa laju ekspansi ekonomi di semester II 2026 tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memberikan daya dorong yang jauh lebih kuat bagi perekonomian nasional secara keseluruhan.
Video Airlangga Ungkap Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen sangat relevan karena menyajikan rekaman dan penjelasan langsung dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai ketahanan pertumbuhan ekonomi Indonesia beserta pendorong utamanya di semester II.
