Sabtu, 31 Okt 2026 NasionalBatamTanjungpinangKarimunLingga
Beranda › Umum
Umum

BMKG: Musim Hujan di Jakarta Tiba Tidak Serentak, Jaksel dan Jaktim Lebih Dulu

✍️ Admin 🕒 31 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Jakarta terpantau mendung hingga hujan deras pada hari Selasa (27/1/2026) pagi.
Jakarta terpantau mendung hingga hujan deras pada hari Selasa (27/1/2026) pagi. Foto: detik.com

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengumumkan bahwa permulaan musim penghujan di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2026 ini tidak akan terjadi secara serentak. Berdasarkan analisis meteorologis terkini, kawasan Jakarta Selatan (Jaksel) dan Jakarta Timur (Jaktim) diproyeksikan akan lebih dulu menyambut kedatangan musim hujan dibandingkan wilayah-wilayah administratif lainnya di ibu kota. Fenomena pembagian waktu yang tidak bersamaan ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer serta letak topografi kawasan selatan Jakarta yang berdekatan dengan dataran tinggi.

Secara lebih terperinci, fase awal pembasahan wilayah ini dijadwalkan mulai berlangsung pada dasarian II November 2026, rentang waktu yang merujuk pada pertengahan bulan antara tanggal 11 hingga 20. Sebanyak sepuluh kecamatan yang tersebar di dua wilayah tersebut tercatat sebagai zona yang paling dini merasakan intensitas curah hujan tinggi secara konsisten. Di wilayah Jakarta Selatan, kecamatan-kecamatan yang masuk dalam radar lebih awal meliputi Cilandak, Kebayoran Baru, Mampang Prapatan, Pancoran, Jagakarsa, serta Pasar Minggu. Sementara itu, untuk wilayah Jakarta Timur, zona serupa mencakup kawasan Cipayung, Kramat Jati, Ciracas, dan Pasar Rebo.

Menanggapi pola persebaran cuaca yang bervariasi ini, pihak BMKG memberikan penjelasan komprehensif mengenai latar belakang ilmiah di balik fenomena tersebut. Diungkapkan bahwa perbedaan waktu kedatangan air hujan di setiap wilayah tidak terlepas dari karakteristik topografi regional. "Kondisi geografis lokal, yaitu adanya dataran tinggi (Gunung Gede, Pangrango dan Gunung Salak) di sebelah selatan DKI. Maksudnya ini salah satu faktor di antara berbagai faktor lain, selain kondisi angin, kelembaban dan lain-lain," ujar Fachri selaku perwakilan BMKG kepada awak media. Keberadaan jajaran pegunungan di sebelah selatan ini mendongkrak pembentukan awan konvektif secara lebih cepat di wilayah penyangga yang berbatasan langsung dengan Jakarta.

Selain faktor topografi pegunungan, elemen pendukung lain seperti sirkulasi angin regional serta tingkat kelembaban udara turut memegang kendali krusial dalam menentukan lini masa jatuhnya tetesan air hujan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar tidak menyamaratakan jadwal peralihan musim di seluruh sudut kota. "Awal musim hujan 2026 di DKI datangnya tidak serentak, mulai dari dasarian II November hingga dasarian III Desember," tambah Fachri mempertegas variasi durasi musim tersebut.

Selepas gelombang pertama di Jaksel dan Jaktim pada pertengahan November, fase musim hujan secara bertahap akan menjalar ke wilayah penyangga lain di ibu kota. Gelombang lanjutan dijadwalkan tiba pada dasarian I Desember 2026. Pada periode awal bulan terakhir tahun ini, beberapa kawasan seperti sebagian Jakarta Barat (mencakup Kebon Jeruk, Kembangan, dan Palmerah) serta Jakarta Pusat (meliputi Cempaka Putih, Johar Baru, Menteng, Senen, dan Tanah Abang) akan mulai diguyur hujan secara rutin. Tidak ketinggalan, beberapa bagian wilayah Jakarta Timur gelombang kedua seperti Jatinegara, Makasar, Pulogadung, dan Matraman, serta sebagian wilayah Jakarta Selatan seperti Kebayoran Lama, Pesanggrahan, Setiabudi, dan Tebet turut menyusul pada fase ini.

Memasuki ujung tahun, yakni pada dasarian III Desember 2026 (rentang 21 hingga 31 Desember), giliran kawasan-kawasan pesisir dan dataran rendah utara yang akan menerima pasokan air hujan secara penuh. Berdasarkan pemetaan BMKG, wilayah pesisir seperti Kepulauan Seribu (Utara dan Selatan), seluruh daratan Jakarta Utara (Cilincing, Kelapa Gading, Koja, Pademangan, Penjaringan, serta Tanjung Priok), hingga sisa wilayah Jakarta Barat (Cengkareng, Grogol Petamburan, Kalideres, Tamansari, Tambora) dan Jakarta Pusat (Gambir, Kemayoran, Sawah Besar) menjadi bagian yang paling akhir mengalami musim hujan.

Pola penetapan jadwal yang dirumuskan secaraspesifik hingga tingkat kecamatan ini memiliki urgensi tinggi bagi pemangku kepentingan maupun masyarakat luas. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beserta jajaran dinas terkait dapat memaksimalkan momentum ini untuk merancang strategi mitigasi bencana secara terarah. Program normalisasi sungai, pengerukan saluran air (sedimen drainase), serta pembersihan tali-tali air di wilayah yang lebih dulu memasuki musim hujan, seperti Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, tentu harus diprioritaskan penyelesaiannya guna meminimalisasi potensi genangan.

Di sisi lain, masyarakat yang berdomisili di zona-zona dengan prediksi hujan lebih awal diminta untuk segera meningkatkan kewaspadaan mandiri. Pemeriksaan kondisi atap rumah, pembersihan saluran air di lingkungan pemukiman, serta kesiapan menghadapi potensi cuaca ekstrem mendadak menjadi langkah antisipasi yang bijak. Dengan memahami informasi prakiraan musim hujan yang dirilis BMKG secara akurat per wilayah dan per kecamatan ini, warga ibu kota diharapkan dapat beradaptasi lebih baik dalam menghadapi dinamika cuaca hingga penghujung tahun 2026.

A
AdminPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update