Korban Meninggal Kebakaran Bromo Bertambah Jadi 6 Orang, Relawan Suraji Meninggal Usai Perawatan
PROBOLINGGO — Jumlah korban jiwa akibat insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus bertambah. Korban meninggal dunia kini genap menjadi enam orang setelah seorang relawan pemadam api bernama Suraji (50), warga Probolinggo, Jawa Timur, dinyatakan mengembuskan napas terakhir. Suraji meninggal usai menjalani perawatan intensif akibat luka bakar serius yang dialaminya saat berjuang memadamkan kobaran api di lereng Gunung Bromo.
Meninggalnya Suraji memperpanjang daftar duka mendalam dalam upaya memadamkan kebakaran yang melanda kawasan wisata strategis nasional tersebut. Sebelumnya, lima tim pemadam dan relawan lokal lainnya telah lebih dulu dinyatakan gugur setelah terjebak di tengah kepulan asap pekat dan kepungan api. Dengan berpulangnya Suraji, seluruh anggota kelompok relawan yang sebelumnya sempat dilarikan ke rumah sakit akibat luka bakar kini dinyatakan telah meninggal dunia.
Perjuangan Medis dan Gugurnya Para Relawan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Suraji sempat mendapatkan penanganan medis secara intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal. Tim medis telah melakukan berbagai upaya pertolongan darurat untuk mengatasi kondisi luka bakar parah serta gangguan pernapasan yang dipicu oleh paparan asap panas saat pemadaman di lapangan. Namun, komplikasi akibat derajat luka bakar yang tinggi tidak dapat diselamatkan.
Insiden awal yang merenggut nyawa para relawan ini terjadi ketika kobaran api karhutla membesar secara mendadak akibat tiupan angin kencang di lereng pegunungan Bromo. Kondisi topografi yang terjal serta vegetasi kering membuat lidah api menyebar dengan cepat dan menjebak sejumlah relawan serta petugas yang berada di garis depan pemadaman.
Saat kejadian berlangsung, enam orang relawan terjebak di area medan perbukitan yang dikepung api dan asap tebal. Tiga orang di antaranya dilaporkan tewas seketika di lokasi kejadian akibat luka bakar berat serta dehidrasi dan lemas akibat menghirup udara beracun. Sementara itu, tiga korban lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi kritis dengan luka bakar serius dan langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Jules Abraham Abast, sempat memberikan keterangan resmi terkait detik-detik evakuasi dan kondisi awal para korban saat insiden tersebut terjadi.
"Ada rekan-rekannya yang meminta pertolongan karena terjebak kobaran api dan adanya kepulan asap yang cukup pekat. Ternyata ada tiga yang mengalami meninggal dunia dan tiga mengalami luka bakar," terang Jules Abraham Abast.
Para korban luka bakar awalnya dievakuasi ke Puskesmas Sukapura dan RSUD Tongas Probolinggo untuk mendapatkan tindakan medis pertama. Namun, mengingat kondisi luka bakar yang cukup parah dan membutuhkan perawatan medis lanjutan yang lebih spesifik, beberapa korban dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya. Dalam rentang waktu perawatan medis tersebut, kondisi fisik para korban terus menurun hingga satu per satu dinyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit.
- Update Karhutla Nasional: BNPB Catat Titik Api Riau Nihil, Fokus Pemadaman Tersisa di 5 Provinsi
- Viral Bus Restu Tetap Salip Kendaraan di Bahu Jalan Tol Sidoarjo Meski Ban Pecah, Polisi Buka Suara
- Pengakuan Terdakwa Kasus Korupsi Batu Bara Rp 38,8 Miliar: Nekat Rekayasa Dokumen Demi Fasilitas Fasilitas Pembiayaan
Penyelidikan dan Upaya Penanganan Karhutla Bromo
Tragedi yang menimpa para relawan ini memicu penyelidikan mendalam dari pihak kepolisian untuk mengetahui secara pasti penyebab terjadinya peristiwa maut tersebut serta asal-usul munculnya titik api di kawasan konservasi TNBTS. Selain fokus pada penyelidikan, aparat gabungan bersama personil Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, BPBD, TNI, dan POLRI masih terus mengerahkan seluruh sumber daya untuk mengendalikan karhutla yang membakar area hutan dan sabana Bromo.
Kombes Jules Abraham Abast menegaskan bahwa pihak kepolisian belum dapat menyimpulkan penyebab utama dari kebakaran tersebut karena prioritas utama saat ini masih tertuju pada pemadaman api dan pengamanan lokasi kejadian.
“Saat ini masih dilakukan pemadaman, sehingga kita belum bisa memastikan apakah penyebab dari kebakaran itu secara pasti,” tandasnya.
Proses pemadaman karhutla di kawasan Gunung Bromo menghadapi berbagai tantangan berat di lapangan. Selain angin kencang yang sewaktu-waktu dapat mengubah arah kobaran api, titik kebakaran yang berada di lereng-lereng curam membuat alat berat maupun armada pemadam sulit menjangkau lokasi. Sebagian besar upaya pemadaman harus dilakukan secara manual oleh tim darat yang bertaruh nyawa menembus asap tebal dan medan ekstrem.
Evaluasi Keselamatan Tim Pemadam dan Penutupan Akses
Gugurnya enam orang relawan pemadam karhutla ini menjadi catatan kelam dalam sejarah penanganan kebakaran hutan di Jawa Timur. Peristiwa ini memicu desakan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) keselamatan para petugas dan relawan yang diterjunkan ke lokasi rawan bencana. Penggunaan perlengkapan pelindung diri (APD) khusus pemadam kebakaran hutan, ketersediaan alat komunikasi yang memadai, serta pemetaaan rute evakuasi darurat menjadi prioritas yang dinilai harus ditingkatkan agar musibah serupa tidak kembali terulang.
Guna mencegah bertambahnya korban dari masyarakat umum maupun wisatawan, pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah membatasi dan menutup sejumlah jalur pendakian serta akses ke area-area yang terindikasi memiliki titik api aktif. Masyarakat serta wisatawan diimbau untuk selalu mematuhi instruksi petugas di lapangan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu timbulnya percikan api baru, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membuat api unggun di area savana yang mengering.
Hingga saat ini, gelombang duka dan simpati terus mengalir bagi para relawan yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan menjaga kelestarian alam Bromo. Pemerintah daerah bersama pengelola kawasan TNBTS berjanji akan memberikan perhatian khusus serta bantuan bagi keluarga para korban yang ditinggalkan. Sementara itu, operasi pemadaman dan pendinginan lahan terus disiagakan guna memastikan titik-titik api benar-benar padam dan tidak mengancam pemukiman warga di sekitar kawasan Bromo.
