Minggu, 18 Okt 2026 NasionalBatamTanjungpinangKarimunLingga
Beranda › Viral
Viral

Minta Bantuan Sunan Kalijaga, Aron Ashab Mengaku Diculik dari Jakarta dan Dipaksa Salat 120 Rakaat Sehari

✍️ Admin 🕒 17 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Sunan Kalijaga Ungkap Pengakuan Aron Ashab Diculik 6 Bulan di Tasik
Sunan Kalijaga Ungkap Pengakuan Aron Ashab Diculik 6 Bulan di Tasik Foto: instagram.com

JAKARTA — Publik dikejutkan oleh kemunculan kembali kreator konten sekaligus aktor Mohammad Haeran Ashab, atau yang dikenal dengan nama Aron Ashab. Setelah sempat tak terdengar kabarnya, Aron mengaku telah menjadi korban penculikan dan penyekapan selama setengah tahun di kawasan pedalaman Tasikmalaya, Jawa Barat. Dugaan tindakan kriminal ini diungkap oleh advokat kondang Sunan Kalijaga, yang dihubungi langsung oleh Aron untuk meminta bantuan hukum.

Kabar menggegerkan tersebut disampaikan Sunan Kalijaga saat memberikan keterangan di kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat. Sunan menceritakan awal mula dirinya dikontak oleh selebritas internet tersebut pascakeluar dari tempat isolasi seraya memperlihatkan kondisi psikologis Aron yang masih terguncang.

"Iya, jadi tadi malam dia cari saya, dihubungin. 'Om, aku ada perlu nih Om' katanya. 'Kasus?' ... 'Aku diculik' katanya. 'Hah? Yang benar kamu diculik?' 'Iya' 'Selama 6 bulan' katanya. 'Diculik di mana?' 'Di daerah Tasik' katanya," ujar Sunan Kalijaga di Puri Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (16/10/2026).

Kondisi Linglung dan Trauma Pasca-Penyekapan

Berdasarkan pengamatan Sunan usai melangsungkan pertemuan tatap muka di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, kondisi Aron terlihat memprihatinkan secara emosional. Pria tersebut nampak cemas, penuh kekhawatiran, dan diliputi rasa trauma yang mendalam.

"Ya memang beda ya. Dia rasanya kayak lepas dari satu tempat yang mungkin tidak pernah dia bayangkan," kata Sunan.

Sunan menuturkan bahwa sikap ketakutan Aron sangat terlihat dari perilakunya saat diajak berdiskusi mengenai penanganan kasus yang menimpanya.

"Kondisinya ya agak kayak orang linglung gitu ya, agak bingung, agak takut, agak-agak paranoid gitu jadinya," tambahnya.

Kejanggalan Prosedur dan Penahanan Tanpa Proses Hukum

Menurut cerita yang dikumpulkan Sunan, peristiwa bermula ketika Aron dijemput paksa dari wilayah Jakarta oleh sejumlah oknum tidak dikenal lalu diboyong jauh ke wilayah Jawa Barat. Lokasi penempatan Aron disinyalir sebagai sebuah fasilitas penampungan atau pembinaan. Namun, yang menimbulkan tanda tanya besar adalah fakta bahwa tidak ada satupun proses surat-menyurat resmi maupun panggilan kepolisian yang mendasari penjemputan paksa tersebut.

Perlakuan yang dialami Aron dinilai telah merampas kemerdekaannya secara sewenang-wenang tanpa kejelasan status hukum.

"Main dibawa, ditaro, istilahnya di situ dibina di situ. Nah itu yang menjadi persoalan. Ini bisa dikategorikan memang penculikan," kata Sunan Kalijaga di Puri Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (16/10/2026).

"Karena memang tanpa ada alasan, orang diambil dengan paksa, ditaruh di satu tempat tidak boleh ke mana-mana. Itu artinya merampas kemerdekaan seseorang, gitu loh," tuturnya.

Sunan menirukan rasa bingung yang dirasakan oleh Aron saat pertama kali dijebloskan ke fasilitas terisolasi tersebut tanpa kejelasan pelanggaran yang ia lakukan.

"Nah saya juga bingung Bang, salah saya apa? Kok tiba-tiba diambil dimasukin ke tempat tersebut. Gitu loh. Enggak ada panggilan polisi, enggak ada ini-itu," lanjutnya menirukan Aron.

Disatukan dengan Pelaku Kriminal dan Pengguna Narkoba

Di lokasi penyekapan yang terpencil di Tasikmalaya itu, Aron menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Tempat tersebut dihuni oleh berbagai orang dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pengguna obat-obatan terlarang hingga orang-orang yang tersangkut tindak pidana. Yang lebih mengejutkan, di antara penghuni lokasi tersebut tidak ada hubungan kekeluargaan maupun kenalan sebelumnya.

"Di situ ada siapa? Ada banyak orang. Bukan cuma saya. Jadi ada yang katanya pengguna narkoba, ada yang katanya pelaku tindak-tindak kriminal ini-itu," ujar Sunan menirukan cerita Aron.

Keberadaan tempat tak berizin dengan latar belakang penghuni yang acak tersebut kian menambah kebingungan pengacara senior ini.

"Enggak kenal. Makanya kan saya agak heran ya, ini tempat apa gitu," pungkasnya.

Kewajiban Salat 120 Rakaat dan Indikasi Kekerasan Fisik

Selama rentang waktu enam bulan berada dalam kekuasaan pengelola lokasi, Aron diperlakukan sebagai warga binaan. Namun, pola pembinaan yang diterapkan dinilai sangat tidak wajar dan membebankan fisik serta mental. Salah satu aturan rutin yang harus dijalaninya setiap hari adalah kewajiban ibadah dengan jumlah rakaat yang sangat ekstrem.

"Dia bilang di sana dia dibina. Dia sebagai warga binaan. Warga binaan yang menurut Aron kemarin dia harus salat sebanyak 120 rakaat dalam satu hari," ungkap Sunan.

Tidak sekadar keterbatasan kebebasan dan rutinitas pembinaan berat, Aron juga membeberkan adanya dugaan penyiksaan dan tindak kekerasan fisik yang terjadi di dalam lingkungan tempatnya ditahan.

"Terus saya tanya, ada nggak kekerasan penganiayaan di lingkungan tempat kamu disekap? 'Ada' katanya. Bahkan ada yang sampai gini, gini, gini, gini. Saya bilang, 'Kamu bener ini, bener?'" tuturnya.

Menghadapi cerita yang berpotensi memicu konsekuensi hukum yang serius ini, Sunan Kalijaga mengingatkan Aron agar selalu berbicara berdasarkan fakta yang dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan di hadapan hukum.

"Saya tanya, saya bilang, 'Tolong kamu ceritakan apa yang kamu alami, tidak dilebihkan atau tidak dikurangi. Tapi betul-betul apa yang kamu alami. Karena segala sesuatunya apa yang kamu sampaikan nanti di mana pun, itu harus kamu bisa pertanggungjawabkan'," ujar Sunan Kalijaga.

"Ya hal-hal yang mungkin nggak sepantasnya ya gitu ya. Ada kekerasan gitu lho. Makanya dia bilang, 'Bang, aku juga ditunggu sama Bang Densu' katanya. Saya bilang, 'Silakan kamu cerita, tapi jangan yang tidak sesuai dengan fakta. Bicara apa yang kamu alami sesungguhnya, seperti apa. Dan kamu bisa pertanggungjawabkan' saya bilang gitu," ungkap Sunan.

Strategi Meloloskan Diri dan Alasan Tak Segera Lapor Polisi

Upaya Aron untuk lepas dari sekapan tidak dilakukan dengan cara nekat melompati pagar atau bentrokan fisik. Selama setengah tahun, ia sengaja mengambil strategi kooperatif dengan menunjukkan perilaku baik guna melunakkan hati para pengelola tempat tersebut. Setelah mendapatkan tingkat kepercayaan tertentu, Aron akhirnya diberi kesempatan untuk keluar area penyekapan bersama salah seorang pengurus. Kesempatan inilah yang dimanfaatkannya untuk memisahkan diri dan kembali ke Jakarta.

"Ya dia cerita, dia berbaik-baiklah supaya mendapatkan kepercayaan dari orang-orang di situ. Sehingga dia bisa ada kesempatan untuk keluar bersama dengan pengelolalah. Istilahnya katanya pengelola tempat tersebut," jelas Sunan.

Ketika ditanya mengapa Aron tidak langsung mendatangi markas kepolisian setempat di Tasikmalaya saat berhasil berada di luar, Sunan mengungkapkan adanya ketakutan mendalam bahwa Aron justru akan difitnah oleh pihak pengelola sebagai pasien atau tahanan yang kabur.

"Saya tanya, kenapa kamu nggak lapor polisi di sana? 'Saya takut, Bang. Saya takut jangan-jangan nanti saya malah difitnah' Gitu loh," kata Sunan.

Sunan melanjutkan penjelasannya mengenai skenario terburuk yang dibayangkan oleh Aron saat itu.

"Polisi saya laporin, polisi panggil orang itu, malah orang itu bilang, 'Ah, ini pasien saya atau ini tahanan saya yang kabur'," lanjutnya mengutip kekhawatiran Aron.

Langkah Hukum Selanjutnya

Hingga saat ini, Sunan Kalijaga bersama tim hukumnya masih mendalami kronologi terperinci terkait pihak yang bertanggung jawab atas penjemputan paksa Aron dari Jakarta hingga ke Tasikmalaya. Pertemuan singkat mereka di sebuah restoran kawasan Senayan belum menuntaskan seluruh detail cerita karena keterbatasan waktu dan situasi tempat.

"Nah saya masih agak kurang jelas itunya tuh. Karena tadi malam juga kan kita ketemu di satu restoran di bilangan Senayan, itu kan berisik ya. Cuma saya nangkep itu garis besarnya saja. Wah kalau memang seperti itu, ya ini harus ditelusuri gitu lho, atas dasar apa Aron diambil," tuturnya.

Pihak tim hukum menegaskan akan mempelajari motif di balik peristiwa isolasi selama enam bulan ini.

"Tapi Aron sendiri diambil, dimasukin ke sana atas dasar apa? Apa salahnya Aron gitu lho? ... Itu yang masih membuat saya penasaran pengin tahu tuh ada apa," lanjutnya.

Guna menindaklanjuti dugaan tindak pidana perampasan kemerdekaan dan penganiayaan ini, Sunan merencanakan diskusi lanjutan bersama tim advokasinya untuk menentukan langkah hukum formal berikutnya.

"Saya belum monitor sejauh itu. Tadi malam juga belum tuntas sih ngobrol sama saya, karena sudah malam. Dia juga baru berani keluar, masih takut-takut dia gitu kan, berani ketemunya di tempat rame gitulah. Sementara jamnya jam orang sudah tutup gitu, jadi nggak sempat lebih lanjut lagi. Nanti kalau ada waktu saya diskusi lagi sama tim," tuturnya.

A
AdminPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update