Kabut Asap Parah Mencekik Palembang, Kasus ISPA Melonjak Tembus 6.000 Pasien
PALEMBANG — Ancaman bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kawasan Kota Palembang, Sumatera Selatan, berada pada tingkat yang kian mengkhawatirkan. Fenomena udara buruk yang tak kunjung mereda ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang mengonfirmasi bahwa jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus angka lebih dari 6.000 kasus hanya dalam kurun waktu kurang dari dua minggu di bulan Oktober 2026.
Berdasarkan data resmi yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang, ditemukan sebanyak 6.296 kasus ISPA sepanjang periode 1 hingga 12 Oktober 2026. Jika dikalkulasikan secara harian, wilayah yang terkenal dengan ikon Jembatan Ampera ini mencatatkan rata-rata 636 kasus baru setiap harinya. Angka ini mencerminkan betapa tingginya paparan polutan udara pekat yang terhirup oleh warga setempat dalam aktivitas harian mereka.
Dampak dari lonjakan kasus gangguan pernapasan ini dirasakan secara nyata oleh berbagai fasilitas kesehatan di Kota Palembang. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) BARI Palembang, salah satu rumah sakit rujukan utama daerah tersebut, terus menerima gelombang pasien penderita gangguan saluran pernapasan. Pihak RSUD BARI Palembang mencatat telah merawat sebanyak 36 pasien penderita ISPA sepanjang periode 1 hingga 7 Oktober 2026.
Kondisi ini kian memprihatinkan lantaran kelompok rentan seperti anak-anak dan balita menjadi pihak yang paling banyak terdampak. Mayoritas pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit tersebut didominasi oleh anak-anak yang rentan terhadap gangguan pernapasan. Daya tahan tubuh anak yang belum sempurna serta paparan particulate matter (PM2.5) dari asap karhutla menjadi kombinasi berbahaya yang mempercepat munculnya peradangan saluran napas pada kelompok umur ini.
Ruang perawatan anak dan unit gawat darurat di RSUD BARI tampak dipadati oleh para penderita ISPA yang membutuhkan penanganan medis intensif, seperti terapi nebulizer (penguapan) dan pemberian oksigen tambahan. Para orang tua tampak setia mendampingi anak-anak mereka yang harus berjuang melawan rasa sesak napas, batuk parah, serta demam tinggi akibat polusi asap yang mengepung pemukiman warga.
Fenomena kabut asap di Palembang dan sekitarnya bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan dampak sistematis dari maraknya titik panas (hotspot) karhutla yang membakar lahan gambut dan kawasan hutan di sejumlah kabupaten tetangga. Karakteristik lahan gambut di Sumatera Selatan membuat pemadaman api menjadi sangat sulit, sehingga menghasilkan asap pekat yang terikut aliran angin dan mengendap di kawasan perkotaan seperti Palembang, terutama pada pagi dan sore hari saat kelembapan udara meningkat.
Meningkatnya paparan partikel mikro dalam asap kebakaran dapat memicu peradangan pada jaringan paru-paru. ISPA sendiri merupakan infeksi yang menyerang organ pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Gejala yang biasa timbul meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah. Apabila tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi memicu komplikasi serius seperti pneumonia atau infeksi paru-paru akut, terkhusus bagi balita dan lansia.
Menanggapi situasi darurat kesehatan ini, praktisi kesehatan mengimbau masyarakat Palembang untuk memperketat protokol kesehatan mandiri saat beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker jenis respirator seperti N95 atau sekurang-kurangnya masker medis berstandar tinggi sangat disarankan guna menyaring partikel mikroskopis asap karhutla. Selain itu, warga juga diimbau untuk membatasi aktivitas fisik di luar ruangan (outdoor), khususnya bagi anak-anak, ibu hamil, serta lansia yang memiliki riwayat penyakit asma atau kardiovaskular.
Untuk menekan lonjakan kasus yang terus merangkak naik, langkah mitigasi darurat terus diupayakan oleh pemerintah daerah berskala lokal maupun provinsi. Selain penyiapan posko kesehatan dan penyediaan obat-obatan serta oksigen gratis di puskesmas-puskesmas, pembagian masker massal juga digencarkan. Namun, para ahli kesehatan menegaskan bahwa kunci utama pencegahan ISPA massal ini terletak pada penghentian total pembakaran lahan dan percepatan pemadaman titik api karhutla di lapangan. Tanpa adanya pemulihan kualitas udara, angka kunjungan pasien ISPA ke fasilitas kesehatan diprediksi masih akan terus tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
