Selasa, 20 Okt 2026 NasionalBatamTanjungpinangKarimunLingga
Beranda › Umum
Umum

Strategi Cegah Karhutla Meluas: Pemerintah Bangun Sekat Kanal dan Puluhan Sumur Bor

✍️ Admin 🕒 19 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Konferensi pers di Kemenko Polkam soal karhutla.
Konferensi pers di Kemenko Polkam soal karhutla. Foto: detik.com

JAKARTA — Langkah antisipatif terus diperkuat oleh pemerintah guna menekan dan mengendalikan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada ekosistem gambut yang rentan memicu sebaran api masif. Sebagai upaya teknis di lapangan, pemerintah meluncurkan program perluasan infrastruktur pembasahan gambut dengan membangun sekat kanal serta menyediakan puluhan unit sumur bor. Strategi terpadu ini disiapkan untuk memastikan pasokan air darurat selalu siap guna, memutus pergerakan kepala api, serta menjaga kelembapan tanah di wilayah rawan bencana.

Inisiatif tersebut menegaskan komitmen lintas kementerian dan lembaga dalam menangani Karhutla secara berkelanjutan dari hulu ke hilir. Selain penyediaan prasarana air, penanganan di area prioritas juga diperkuat melalui kombinasi pemadaman darat, pengerahan alat berat, operasi modifikasi cuaca (OMC), hingga pemantauan titik panas menggunakan teknologi pencitraan termal.

Pencegahan yang konsisten menjadi kunci utama agar potensi titik panas (hotspot) tidak membesar menjadi bencana kebakaran yang merugikan ekosistem serta kesehatan masyarakat. Kebijakan ini sekaligus menjadi fondasi jangka panjang dalam menjaga kawasan konservaasi dan kawasan gambut produktif agar tetap basah dan sulit terbakar.

Pencegahan Berbasis Pembasahan Gambut dan Penambahan Alat Berat

Pembangunan sekat kanal difokuskan pada kawasan gambut guna menahan laju penurunan muka air tanah. Dengan adanya sekat kanal, air hujan maupun aliran sungai di sekitar ekosistem gambut dapat ditampung lebih lama sehingga tanah tetap dalam kondisi lembap dan tidak mudah tersulut api.

Bersamaan dengan itu, pembangunan sumur bor disiapkan di titik-titik krusial sebagai sumber air cepat tanggap bagi tim pemadam darat. Dalam penanganan kawasan bernilai konservasi tinggi seperti Taman Nasional Tanjung Puting, misalnya, pemetaan kebutuhan sumber air dan pembuatan sekat api menjadi fokus prioritas penanganan.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan pentingnya intervensi cepat menggunakan kombinasi alat berat dan titik pasokan air agar pergerakan api tidak memasuki zona inti kawasan lindung.

"Sekarang kita coba memutus kepala apinya. Kepala apinya yang kita putus dengan kecepatan, menggunakan alat berat supaya menghindari mudarat yang lebih besar lagi."

"Ini akan tambah nanti ada mungkin 4-5 ekskavator lagi untuk menyekat apinya," ujar Raja Juli, seperti dikutip Rabu (14/10).

Langkah penyekatan api menggunakan ekskavator dipadukan dengan pembuatan sumur bor secara terukur di sekitar koridor garis api. Penempatan sumur bor diatur dengan jarak berkala agar personel pemadam di lapangan tidak mengalami kendala pasokan air saat melakukan penyiraman intensif.

Mengenai pemetaan kebutuhan infrastruktur air di lapangan, Menteri Kehutanan menambahkan:

"Tapi, intinya kami mencegah agar api tidak masuk ke zona inti. Berdasarkan pemetaan, dibutuhkan sekitar 30 sumur bor untuk membantu upaya pemadaman,” ujar Menhut.

Penyisiran Titik Api dan Mobilisasi Pasukan Darat

Guna memaksimalkan efektivitas pemadaman, pemerintah menerjunkan tim gabungan yang terdiri dari Satuan Manggala Agni, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta kelompok relawan masyarakat peduli api. Pendekatan terpadu ini diperkuat dengan pemanfaatan teknologi pemantauan jarak jauh berupa drone thermal untuk mengidentifikasi pusat-pusat titik api tersembunyi yang tertutup asap tebal.

Dalam laporan operasional penanganan karhutla di lapangan, Raja Juli Antoni menguraikan strategi pemetaan lokasi bertarung (battleground) guna membagi kekuatan personel secara proporsional.

"Dari banyak titik api yang tersebar di Tanjung Puting, pakai drone thermal, kami bisa mengidentifikasi ada empat battleground atau ada empat titik di mana harus bertarung melawan api," kata Raja Antoni.

Empat titik kritis yang menjadi konsentrasi penanganan meliputi wilayah Pesalat, Teluk Pulai, Sungai Buluh Kecil, dan Sungai Buluh Besar, serta area pendukung di sekitar Sungai Bawung dan Tanjung Rengas. Di wilayah-wilayah tersebut, sebagian personel bahkan disiagakan menginap di dalam hutan untuk memastikan pemadaman selesai secara tuntas.

"Untuk lokasi lain, pasukan darat juga akan diperkuat di Teluk Pulai, Sungai Buluh Kecil, Sungai Buluh Besar, Sungai Bawung dan Tanjung Rengas. Sebagian personel akan dipersiapkan untuk tinggal di lapangan selama sekitar satu pekan agar operasi dapat berjalan tanpa harus bolak-balik dari lokasi pemadaman," kata Raja Antoni.

"Sekitar 160 personel pasukan darat akan dikerahkan untuk melakukan pemadaman," kata Raja Antoni dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/10/2026).

Arahan Presiden dan Komitmen Tanpa Henti Penanganan Karhutla

Upaya percepatan pembangunan infrastruktur pencegahan karhutla ini sejalan dengan arahan tegas dari Presiden Prabowo Subianto. Dalam berbagai kesempatan rapat koordinasi penanganan karhutla bersama para kepala daerah dan instansi terkait, Presiden menekankan pentingnya langkah antisipatif sejak awal ketimbang tindakan penanggulangan pascabencana.

Presiden memberikan instruksi khusus agar jumlah embung, kanal, dan sumur bor di lahan gambut produktif terus ditingkatkan demi menjaga kelembapan alami kawasan tersebut.

"Bagaimana kita bisa sekarang terus menambah embung-embung, kanal-kanal di daerah gambut yang produktif. Apakah bisa embung-embung itu memelihara ikan-ikan tertentu dan sebagainya," ucap dia.

Presiden Prabowo juga menyampaikan apresiasi atas sinergi kerja keras seluruh petugas gabungan di lapangan yang telah berjuang menekan kemunculan titik panas sejak awal tahun.

"Kita antisipatif, titik-titik hotspot itu, alhamdulillah, kalau berkurang. Saya kira juga akibat saudara-saudara bekerja keras sudah sejak awal tahun. Terima kasih," tuturnya.

Pemerintah memastikan bahwa seluruh pemangku kepentingan tidak akan kendur dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kolaborasi antara operasi pemadaman darat, dukungan pembasahan dari udara (water bombing), penyemaian garam melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta penyiapan sumur bor dan sekat kanal akan terus dijalankan secara berkesinambungan demi melindungi lingkungan dan keselamatan warga.

"Insya Allah pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, BMKG, BNPB tidak patah semangat, tidak cuci tangan, tidak lepas tangan. Segala upaya yang memang memungkinkan untuk kita lakukan, kita lakukan," ujar Raja Antoni.

A
AdminPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update